Feeds:
Pos
Komentar

Sang Operator Telepon

         Waktu saya masih amat kecil, Ayah sudah memiliki telepon di rumah kami. Inilah telepon masa awal, warnanya hitam, ditempelkan di dinding, dan kalau mau menghubungi operator, kita harus memutar sebuah putaran dan minta disambungkan dengan nomor telepon lain.

         Sang operator akan menghubungi secara manual. Dalam waktu singkat, saya menemukan bahwa, kalau putaran diputar, sebuah suara yang ramah, manis, akan berkata: “operator”

          Dan si operator ini maha tahu, ia tahu semua nomor telepon orang lain. Ia tahu nomor telepon restaurant, rumah sakit, bahkan nomor telepon toko kue di ujung kota.

          Pengalaman pertama dengan sang operator terjadi waktu tidak ada seorangpun di rumah dan jempol kiri saya terjepit pintu. Saya berputar-putar kesakitan dan memasukkan jempol ini ke dalam mulut tatkala saya ingat…… operator!

          Segera saya putar bidai pemutar dan menanti suaranya.

          “Disini operator….”

          “Jempol saya kejepit pintu…” kata saya sambil menangis.

          Kini emotion bisa meluap, karena ada yang mendengarkan.

          “Apakah Ibumu ada di rumah?” tanyanya.

          “Tidak ada orang”

          “Apakah jempolmu berdarah?”

          “Tidak, Cuma warnya merah, dan sakiiit sekali”

          “Bisakah kamu membuka lemari es?” tanyanya,

          “Bisa, naik di bangku”

          “Ambillah sepotong es dan tempelkan pada jempolmu…”

          Sejak saat itu saya selalu menelpon operator kalau perlu sesuatu. Waktu tidak bisa menjawab pertanyaan ilmu bumi, apa nama ibu kota sebuah Negara. Tanya tentang matematika. Ia juga menjelaskan bahwa tupai yang saya tangkap untuk dijadikan binatang peliharaana, makannya kacang atau buah.

          Suatu hari, burung peliharaan saya mati. Saya telepon sang operator dan melaporkan berita duka cita ini.

          Ia mendengarkan semua keluhan, kemudian mengutarkan kata-kata hiburan yang biasa diutarkan orang dewasa untuk anak kecil yang sedang sedih. Tapi rasa belasungkawa saya terlalu besar.

          Saya Tanya: “kenapa burung yang pintar menyanyi dan menimbulkan sukacita sekarang tergeletak tidak bergerak di kandangnya?”

          Ia berkata pelan: “karena ia sekarang menyanyi di dunia lain…”

          kata-kata ini – nggak tau bagaimana – menenangkan saya.

          Lain kali saya telepon dia lagi.

          “Disini operator”

          “Bagaimana mengeja kata kukuruyuk?”

          Kejadian ini berlangsung sampai saya berusia 9 tahun. Kami sekeluarga kemudian pindah kota lain.

          Saya sangat kehilangan “Disini operator” saya tumbuh jadi remaja, kemudian anak muda, dan kenangan masa kecil selalu saya nikmati. Betapa sabarnya wanita ini. Betapa penuh pengertian dan mau meladeni anak kecil.

          Beberapa tahun kemudian, saat jadi mahasiswa, saya study trip ke kota asal. Segera sesudah saya tiba, saya menelpon kantor telepon dan minta bagian “operator”

          “Disini operator”

          Suara yang sama. Ramah tamah yang sama.

          Saya Tanya: “Bisa nggak eja kata kukuruyuk?”

          Hening sebentar. Kemudian ada pertanyaan: “Jempolmu yang kejepit pintu sudah sembuh kan?”

          Saya tertawa. “Itu Anda… wah waktu berlalu begitu cepat ya.”

          Saya terangkan juga betapa saya berterima kasih untuk semua pembicaraan waktu masih kecil. Saya selalu menikmatinya.

          Ia berkata serius: “Saya yang menikmati pembicaraan denganmu. Saya selalu menunggu-nunggu kau menelpon”

          Saya ceritakan bahwa, ia menempati tempat khusus di hati saya. Saya bertanya apa lain kali boleh menelponnya lagi.

          “Tentu, nama saya Saly”

          Tiga bulan kemudian saya balik ke kota asal. Telepon operator.

          Suara yang sangat beda dan asing. Saya minta bicara dengan operator yang namanya Saly.

          Suara itu bertanya “Apa Anda temannya?”

          “Ya teman sangat lama”

          “Maaf untuk kabarkan hal ini, Saly beberapa tahun terakhir bekerja paruh waktu karena sakit-sakitan, dan dia meninggal lima minggu yang lalu…”

          Sebelum saya meletakkan telepon, tiba-tiba suara itu bertanya:

          “Maaf, apakan Anda yang bernama Paul?

          “Ya”

          “Saly meninggalkan sebuah pesan buat Anda. Dia menulisnya diatas sepotong kertas, sebentar ya…”

          Ia kemudian membacakan pesan Saly:

         “Bilang pada Paul, bahwa IA SEKARANG MENYANYI DI DUNIA LAIN… paul akan mengerti kata-kata ini…”

         Saya meletakkan gagang telepon.

         Saya tahu apa yang Saly maksudkan.

         “Selamat bernyanyi di dunia lain, Saly, Sahabatku, operator telepon yang bagiku tidak ada duanya di dunia ini”, ucap saya dalam hati.

Iklan

Kisah Paling Sedih Yang Memotivasi – Berikut kisah atau cerita sedih yang dapat memotivasi Anda dalam menjalani kehidupan berumah tangga, Kisah mengharukan atau kisah sedih ini tentang perjalanan cinta seorang istri yang tak pernah mencintai suaminya selama 10 tahun perjalanan pernikahannya hingga sang Suami meninggal dunia, dan akhirnya ia menyadari betapa besar cinta dan kasih sayang yang diberikan sang suami untuknya selama ini, dulu ia menghabiskan sepuluh tahun untuk membenci suaminya, tetapi setelah Suaminya tiada Ia menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupnya untuk mencintai sang Suami.

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit.

Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

http://artikelmotivasi-islami.blogspot.com/2011/11/kisah-paling-sedih-yang-memotivasi.html

Arti Seorang Sahabat Sejati

Teman, sahabat… Beberapa tahun lalu, kita akan menemukan mereka dari  aktivitas sosial secara langsung. Misalnya saja mereka tinggal sebagai  tetangga, mereka teman sekolah, teman kuliah atau teman kerja. Tetapi  sekarang, Anda bisa menemukan orang yang benar-benar asing masuk ke  dalam daftar teman Anda. Coba buka akun jejaring sosial Anda, ada berapa  banyak teman yang belum pernah bertatap muka langsung dengan Anda?

Tidak  salah kok punya teman dari dunia maya, apalagi jika mereka punya hobi  yang sama, punya pengalaman yang bisa dibagi, punya pengetahuan yang  bisa bermanfaat. Banyak pertemanan dunia maya yang berakhir menjadi  persahabatan sesungguhnya. Apakah mereka bisa menjadi sahabat sejati?  Bisa iya, bisa tidak. Karena sahabat sejati dapat dijumpai di mana saja  dan kapan saja.

Sebagai seorang perempuan, hidup tidak akan  lengkap tanpa kehadiran seorang sahabat, terlebih lagi sahabat sejati  yang bisa menjadi cermin siapa diri Anda. Masalahnya, dengan banyaknya  kehadiran orang-orang baik dalam kehidupan Anda (baik dari pertemuan  langsung atau dunia maya), ternyata tidak semua bisa menjadi sahabat  sejati Anda. Apakah mereka hanya teman berbagi kesenangan dan  pengetahuan belaka, atau bisa menjadi soulmate Anda?

Sahabat Sejati…
Mengatakan yang Sesungguhnya

Sahabat sejati tidak akan  sungkan mengatakan, “Berat badan kamu naik ya?” atau “Ada cabai di gigi  kamu, bersihin dong!” Mengapa? Karena mereka melakukan itu tidak lebih  untuk kebaikan Anda sendiri. Tidak jarang mereka menjadi alarm yang  tidak berhenti memperingatkan Anda bahwa pria yang Anda sukai sebenarnya  pria yang tidak baik dan tidak pantas untuk Anda.

Jengkel?  Jangan lagi. Mereka tidak sedang menjatuhkan Anda. Mereka mengatakan hal  yang sesungguhnya sekalipun terkesan menyakitkan du hati Anda. Mereka  mengatakan sesuatu yang terkesan ‘dingin’ tetapi mereka melakukan itu  untuk menunjukkan kepedulian yang sangat besar bagi Anda. Lebih baik  sahabat sendiri yang mengatakan ada cabai di gigi Anda ketimbang Anda  keliling kota dengan cabai terselip di antara gigi tanpa sadar. Iya  bukan?

Sahabat Sejati…
Mengantar Anda Menggapai Impian

Sekalipun mereka mengatakan  hal-hal kebenaran tentang Anda, mereka tidak akan menghakimi atau  mengkritik Anda. Mereka adalah pemberi saran terbaik, sekaligus rekan  paling gila yang bisa membuat Anda tidak sungkan mengatakan apa  sebenarnya impian Anda, apa yang sebenarnya yang Anda cari dalam hidup  Anda (seringkali hal ini bahkan tidak diketahui orang tua Anda sendiri).

Bersama  mereka, Anda bisa mendapat motivasi dan dorongan yang kuat untuk  menggapai impian Anda. Anda juga demikian, menjadi penopang impian  sahabat Anda. Saling mendukung, saling percaya dan saling mengingatkan,  tanpa sikap menghakimi. Mereka bisa menjadi kotak untuk menampung impian  Anda, sekaligus tempat mencurahkan air mata saat impian Anda tak  tercapai dan melambung terlalu tinggi untuk diraih.

Sahabat Sejati…
Tidak Meminta Imbalan Apapun

Mungkin Anda pernah saling  meminjam barang atau uang pada sahabat Anda, ini wajar. Tetapi di luar  itu semua, seorang sahabat tidak mengharap apapun dari Anda. Tidak  mengharap Anda akan memberikan sesuatu dalam bentuk materi atau  keuntungan lain. Mereka hanya ingin berbagi bersama Anda dan saling  menopang. Tidak ada imbalan yang akan mereka minta sebagai bentuk balas  jasa.

Sekalipun Anda dalam kondisi susah, melarat, jatuh miskin  dan tidak memiliki apapun, mereka akan ada di samping Anda, masih  menjadi sahabat yang sama baiknya seperti pada saat Anda sukses dan  bahagia. Mereka selalu membagi energi, pikiran, waktu, tenaga dan  berbagai hal lain untuk Anda. Tidak mudah melakukan semua itu tanpa  imbalan, mereka adalah harta yang harus Anda jaga.

Sahabat Sejati…
Tidak Akan Mengubah Anda

Mereka menerima apapun diri Anda,  apapun pemikiran Anda dan mereka tidak akan meminta Anda untuk berubah  menjadi orang lain. Mungkin mereka akan mengingatkan Anda bila terlalu  banyak mengonsumsi makanan tak sehat dan masih merokok, tetapi mereka  melakukan itu untuk kebaikan Anda. Mereka mungkin mengingatkan Anda  untuk tidak berteriak kurang ajar pada seorang supir taksi, tetapi  sekali lagi, mereka melakukannya untuk kebaikan Anda.

Jika Anda  tidak suka dengan pilihan film kesukaannya, mereka tidak akan memaksa  Anda untuk menonton film tersebut. Jika Anda tidak suka rumah makan  kesukaan mereka, mereka akan lebih memilih mengunjungi rumah makan itu  seorang diri tanpa mengajak Anda, karena mereka tahu bahwa Anda tidak  suka. Mereka menghormati Anda, keputusan Anda dan hal-hal yang tidak  Anda suka. As simple as that.

Sahabat Sejati…
Mau Mendengarkan Anda

Banyak orang yang tampak mendengarkan  Anda dan bersimpati, tetapi hanya itu saja, kemudian mereka berlalu.  Tetapi seorang sahabat tidak melakukannya, mereka mendengar apapun yang  Anda katakan, bahkan bila membutuhkan waktu berjam-jam. Saat Anda  mencurahkan hati dan pemikiran Anda, mereka benar-benar mendengarkan  Anda. Melihat mimik wajah Anda, menggali apa yang sedang Anda rasakan  dan mereka selalu tahu saat Anda berbohong.

Sangat sedikit orang  yang mau mendengarkan Anda hingga mendalam, ini bukan pekerjaan mudah.  Karena lebih banyak orang yang akan menghakimi dan mengkritik Anda, itu  lebih mudah daripada mendengarkan. Sahabat Anda akan selalu mendengarkan  Anda tanpa kritik. Karena itu, Anda lebih membutuhkan satu orang  sahabat sejati yang mau mendengarkan Anda dibandingkan hanya  bersenang-senang dan terlihat cool dengan beberapa orang, tetapi sebenarnya Anda kesepian.

 

http://metrotvnews.com/read/news/2011/07/08/57156/Arti-Seorang-Sahabat-Sejati/

Dijelaskan dalam kitab “Tafsir Surat Yaasiin” bahwa surat Yaasiin mempunyai keutamaan-keutamaan sebagai berikut:

  1. apabila ada orang yang lapar lalu membaca surat Yaasiin dengan Khusu’ maka Allah mengenyangkannya.
  2. apabila ada orang yang susah lalu membaca surat Yaasiin maka Allah menghilangkan kesedihannya.
  3. apanila ada orang yang mempunyai hajat maka Allah akan mengabulkannya.
  4. apabila surat Yaasiin dibaca pada waktu pagi maka Allah akan melindungi sampai waktu sore.
  5. apabila surat Yaasiin dibacakan untuk suatu kaum maka kaum tersebut terbebas dari penyakit, wabah, malapetaka.
  6. apabila surat Yaasiin dibaca waktu malam maka Allah akan melindungi hingga waktu pagi.
  7. apabila ada orang jahat meninggal lalu dibacakan surat Yaasiin maka siksa di alam kubur diringankan oleh Allah.
  8. apabila surat Yaasiin dibacakan bagi orang baik yang meninggal dunia maka rohnya tenang di alam kubur.

Ayat Kursi

 

Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum, laa ta-khudzuhuu sinatuw walaa naum, lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ard, man dzalladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi idznih, ya’lamu maa baina aydiihim wamaa khalfahum walaa yuhiithuuna bisyai-im min ‘ilmihii illa bima syaa-a wasi’aa kursiyyuhus samaawaati wal ard, walaa yauuduhuu hifzhuhumaa wahuwal ‘aliyyul’azhim. (QS. Al Baqarah: 225)

 

artinya:

“Allah, tidak ada Tuhan melainkan Engkau, Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. kepunyaaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, elainkan apa yang dikehendaki-Nya. kekuasaan Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

 

Keutamaann Ayat Kursi:

Sabda nabi Muhammad SAW dari Abu Qutadah, “Barang siapa membaca Ayat Kursi ketika hendak tidur, maka Allah SWT mewakilkan dua Malaikat yang menjaga selama tidurnya hingga pagi”.

Shalawat Nariyah

Bismillahir Rahmaanirrahim

Allahumma shalli shalaatan kaamilatan wa sallim salaamaan taammaan ‘alaa sayyidinaa Muhammad alladzii tanhallu bihil ‘uqadu wa tanfariju bihil kurabu wa tuqdhaa bihil hawaaiju wa tunaalu bihirraghaaibu wa husnul khawaatimi wa yustasqol ghamaamu biwajhihil kariimi wa’alaa aalihi washahbihii fii kulli lamhatiw wa nafasin bi’adadi kulli ma’luumil laka.

 

artinya:

“YaAllah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan yang sempurna kepada junjungan kami Nabi Muhammad yang dapat melepas beberapa kerepotan/ikatan, menghilangkan beberapa kesusahan, mendatangkan beberapa hajat, khusnul khatimah daan curahan rahmat sebab wajah mulia pada tiap saat dan nafas sebanyak yang Engkau ketahui, dengan kerahmatan-Mu Dzat Yang paling Belas Kasih”.

 

Khasiat Shalawat nariyah:

  1. orang susah karena kehilangan barang, hendaklah membaca Shalawat nariyah ini 4444 kali, Insya Allah barang yang hilang tersebut cepat kembali. kalau barang tersebut diambil orang tidak sampai dikembalikan, maka orang itu akan mengalami musibah/kerusakan dengan kehendak Allah SWT.
  2. dibaca 444 kali, boleh dibaca sendirian atau berjamaah, dapat melancarkan rizki, menjauhkan dari gangguan jahat, memudahkan tercapainya hajat besar.
  3. dibaca 40 kali setiap hari, dapat menghilangkan segala macam kesusahan, memudahkan pekerjaan, menerangkan hati, meluhurkan pangkat, memperbaiki budi pekerti, menghindarkan dari malapetaka dan perbuatan buruk.
  4. dibaca 21 kali tiap-tiap habis shalaat Subuh dan Maghrib akan menjaga dari musibah dan malapetaka apapun.
  5. dibaca 11 kali tiap-tiap habis shalat 5 waktu akan menjaga bala’ (kerusakan) lahir dan batin. Syaih Sanusi berkata: “Barang siapa membaca Shalawat Nariyah ini setiap 11 kali, maka Allah SWT menurunkan rizkinya, dan mengikuti rizkinya dari belakang”.

1. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang pria yang soleh.

2. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis kerana takutkan Allah SWT. dan orang yang takutkan Allah SWT. akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

3. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah.

4. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak pria. Maka barang siapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail AS.

5. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW.) di dalam syurga.

6. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.

7. Dari Aisyah r.a. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

8. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

9. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapakmu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah darimana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

11. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan direkannya (serta menjaga sembahyang dan puasanya).

12. Aisyah r.a. berkata “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW., siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab baginda, “Suaminya.” “Siapa pula berhak terhadap pria?” tanya Aisyah kembali, Jawab Rasulullah SAW. “Ibunya.”

13. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dia kehendaki.

14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

16. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah SWT.

17. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

18. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

19. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.

20. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.

21. Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk dari pada 1,000 pria yang jahat.

22. Rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.

23. Wanita yang memberi minum air susu ibu (asi) kepada anaknya daripada badannya (susu badannya sendiri) akan dapat satu pahala dari pada tiap-tiap titik susu yang diberikannya.

24. Wanita yang melayani dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan mendapat pahala jihad.

25. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suami yang melihat isterinya dengan kasih sayang akan dipandang Allah dengan penuh rahmat.

26. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumah tangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.

27. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari kerana menjaga anak yang sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia hiburkan hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadah.

28. Wanita yang memerah susu binatang dengan “bismillah” akan didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkahan.

29. Wanita yang menguli tepung gandum dengan “bismillah”, Allah akan berkatkan rezekinya.

30. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti menyapu lantai di baitullah.

31. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.

32. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.

33. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun shalat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengaruniakan satu pahala haji.

34. Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dikira sebagai mati syahid.

35. Jika wanita melayani suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun solat.

36. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempo(2½ thn),maka malaikat-malaikat dilangit akan khabarkan berita bahwa syurga wajib baginya. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.

37. Jika wanita memicit/mijat suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita memicit suami bila disuruh akan mendapat pahala 7 tola perak.

38. Wanita yang meninggal dunia dengan keridhaan suaminya akan memasuki syurga.

39. Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.

40. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat, tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang memberati auratnya yaitu memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah.

http://ceritateladan.com/2011/12/40-keistimewaan-wanita-menurut-islam/